1.APA ITU KURA-KURA
Kura-kura adalah hewan bersisik berkaki empat yang termasuk
golongan reptil.
Bangsa hewan yang disebut (ordo) Testudinata (atau Chelonians)
ini khas dan mudah dikenali dengan adanya ‘rumah’ atau batok (bony shell)
yang keras dan kaku.
Batok kura-kura ini
terdiri dari dua bagian. Bagian atas yang menutupi punggung disebut karapas (carapace)
dan bagian bawah (ventral, perut) disebut plastron. Kemudian setiap bagiannya
ini terdiri dari dua lapis. Lapis luar umumnya berupa sisik-sisik besar dan
keras, dan tersusun seperti genting; sementara lapis bagian dalam berupa
lempeng-lempeng tulang yang tersusun rapat seperti tempurung. Perkecualian
terdapat pada kelompok labi-labi (Trionychoidea) dan jenis penyu belimbing,
yang lapis luarnya tiada bersisik dan digantikan lapisan kulit di bagian luar tempurung tulangnya.
Dalam bahasa Indonesia,
kita mengenal tiga kelompok hewan yang termasuk bangsa ini, ialah penyu (bahasa Inggris: sea turtles), labi-labi atau bulus (freshwater turtles), dan
kura-kura (tortoises). Dalam bahasa Inggris, dibedakan lagi antara
kura-kura darat (land tortoises) dan kura-kura air tawar (freshwater
tortoises atau terrapins).
2.
EVOLUSI KURA-KURA
Bagaimana
batok kura-kura itu terbentuk dan berkembang dalam proses evolusinya, belum
diperoleh keterangan yang jelas. Fosil kura-kura tertua kedua yang berasal dari
Masa Trias (sekitar 210 juta tahun silam), Proganochelys, telah
berbentuk mirip dengan kura-kura masa kini. Perbedaannya, tulang belulang di
bagian punggung belum begitu melebar dan belum semuanya menyatu membentuk
tempurung yang sempurna. Kura-kura purba hidup dan berkembang kurang lebih
sejaman dengan dinosaurus. Archelon,
misalnya, merupakan kura-kura raksasa yang diameter tubuhnya dapat mencapai
lebih dari 4 m. Fosil kura-kura tertua yang ditemukan saat ini adalah Odontochelys yang
berasal dari sekitar 2 tahun silam.
Banyak jenis kura-kura
yang hidup sekarang mampu menyembunyikan kepala, kaki dan ekornya ke dalam
tempurungnya, sehingga dapat menyelamatkan diri. Namun beberapa kura-kura
primitif, seperti contohnya penyu, tak dapat menarik masuk anggota badannya
itu.
3. KEBIASAAN HIDUP
KURA-KURA
Kura-kura hidup di berbagai tempat, mulai daerah gurun, padang rumput, hutan, rawa, sungai dan laut. Sebagian jenisnya
hidup sepenuhnya akuatik, baik di air tawar maupun di
lautan. Kura-kura ada yang bersifat pemakan tumbuhan (herbivora),
pemakan daging (karnivora) atau campuran (omnivora).
Kura-kura
tidak memiliki gigi. Akan tetapi perkerasan tulang di moncong kura-kura sanggup
memotong apa saja yang menjadi makanannya.
Ukuran tubuh kura-kura
bermacam-macam, ada yang kecil ada yang besar. Biasanya ditunjukkan dengan
panjang karapasnya (CL, carapace length). Kura-kura terbesar adalah
penyu belimbing, yang karapasnya dapat mencapai panjang 300 cm. Labi-labi
terbesar adalah labi-labi moncong babi, dengan panjang karapas
sekitar 0.7 meter. Sementara kura-kura raksasa dari Kep. Galapagos dan
Kep. Seychelles panjangnya
dapat melebihi 0.7 meter. Sedangkan yang terkecil adalah kura-kura mini
dari Afrika Selatan, yang panjang karapasnya tidak
melebihi 8 cm.
Kura-kura berbiak dengan
bertelur (ovipar). Sejumlah beberapa butir (pada kura-kura darat) hingga lebih
dari seratus butir telur (pada beberapa jenis penyu) diletakkan setiap kali
bertelur, biasanya pada lubang pasir di tepi sungai atau laut, untuk kemudian
ditimbun dan dibiarkan menetas dengan bantuan panas matahari. Telur penyu
menetas kurang lebih setelah dua bulan (50-70 hari) tersimpan di pasir.
Jenis kelamin anak
kura-kura yang bakal lahir salah satunya ditentukan oleh suhu pasir tempat
telur-telur itu tersimpan. Pada kebanyakan jenis kura-kura, suhu di atas
rata-rata kebiasaan akan menghasilkan hewan betina. Dan sebaliknya, suhu di
bawah rata-rata cenderung menghasilkan banyak hewan jantan.
Kura-kura termasuk salah
satu jenis hewan yang berumur panjang. Reptil ini dapat hidup puluhan tahun,
bahkan seekor kura-kura darat dari Kep. Seychelles tercatat hidup selama 152
tahun (1766 – 1918).
4. KURA-KURA DAN
MANUSIA
Kura-kura secara
tradisional merupakan hewan yang akrab dengan manusia. Mitologi Hindu menyebutkan
bahwa bumi ini
disangga oleh empat ekor kura-kura. Demikian pula, kisah kuno Adiparwa menceritakan
bahwa kura-kura raksasa berperan penting menyangga gunung,
yang diputar dan digunakan untuk mengaduk lautan, dalam mencari tirta amerta –air
kehidupan.
Labi-labi juga menjadi
hewan yang disucikan, sehingga kerap dipelihara di kolam-kolam kuil Hindu atau
tempat suci lainnya. Karena itu, lukisan kura-kura kadang-kadang muncul pada
relief candi atau makam.
Pada sisi yang lain,
daging kura-kura dan penyu telah sejak lama dikenal sebagai makanan yang lezat.
Beribu-ribu ekor labi-labi, kura-kura dan penyu, terutama penyu hijau, berakhir
hidupnya setiap tahun di dapur restoran.
Demikian pula nasib telur-telurnya, banyak yang akhirnya menjadi santapan
manusia.
Sejenis penyu,
yakni penyu sisik (Eretmochelys imbricata), diburu orang
untuk diambil sisiknya yang indah sebagai bahan perhiasan. Bersama penyu sisik,
beberapa jenis penyu yang lain juga kerap dibunuh dan dikeringkan (diopset) untuk dijadikan hiasan dinding.
Di samping itu banyak
jenis kura-kura yang ditangkapi untuk diperdagangkan sebagai hewan timangan (pet).
Baik karena keindahan warnanya, keunikannya, atau –ironisnya- kelangkaannya.
Beberapa jenisnya dapat mencapai harga yang sangat mahal.
Tekanan yang tinggi dan
terus-menerus ini, telah menurunkan banyak populasi kura-kura
ke tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Apalagi kebanyakan habitat alaminya
di sungai-sungai, rawa dan hutan juga telah
turut rusak akibat aktivitas manusia. Pada pihak lain, perkembangan populasi
kura-kura amat lambat dan kebanyakan malah belum diketahui sifat-
sifat dan
kebiasaannya. Oleh sebab itu tindakan konservasi bagi
hewan ini amat diperlukan.
Dari semua bangsa
kura-kura, hanya penyu yang telah dilindungi dengan cukup baik di Indonesia.
Hampir semua jenisnya telah dilindungi oleh undang-undang.
Banyak pantai peneluran penyu yang telah dimasukkan ke dalam kawasan yang dilindungi, seperti
misalnya Pantai Sukamade di Jawa Timur dan
Pantai Jamursba-Medi di Papua. Meski demikian, penangkapan penyu dan
pengambilan telurnya masih juga berlangsung secara ilegal dan
sulit dihentikan.
5. KEANEKARAGAMAN
KURA KURA DAN PENYEBARANNYA
Seluruhnya,
diperkirakan terdapat sekitar 260 spesies kura-kura dari 12-14 suku (familia)
yang masih hidup di pelbagai bagian dunia. Di Indonesia sendiri terdapat
sekitar 45 jenis dari sekitar 7 suku kura-kura dan penyu.
Berikut suku-suku
tersebut dan beberapa contohnya:
a.suku kura-kura Pleurodira
Chelidae, kura-kura leher ular
Suku ini dinamai demikian karena
kebanyakan anggotanya memiliki leher yang panjang. Karena tak dapat ditarik
masuk, kepala kura-kura ini hanya dilipat menyamping di sisi tubuhnya di bawah
lindungan pinggiran tempurung badannya.
Suku kura-kura leher ular menyebar
terutama di Papua dan Australia serta pulau-pulau di sekitarnya,
dan di Amerika Selatan.
Di luar tempat-tempat tersebut ditemukan pula di Pulau Rote, Nusa Tenggara. Habitat kura-kura ini adalah
perairan tawar. Beberapa jenisnya yang ada di Indonesia, di antaranya:
·
Kura-kura rote (Chelodina mccordi)
·
Kura-kura papua (Chelodina novaeguineae)
·
Kura-kura perut putih (Elseya branderhosti)
Seperti kerabat terdekatnya, Chelidae,
anggota suku ini merupakan kura-kura air tawar. Kura-kura ini hidup di Amerika
Selatan, Afrika dan Madagaskar dan tidak didapati di
Indonesia.
b.Suku kura kura Cryptodira
Cheloniidae.
Penyu hidup sepenuhnya akuatik di
lautan. Kecuali yang betina ketika bertelur, penyu boleh dikatakan tidak pernah
lagi menginjak daratan setelah dia mengenal laut semenjak menetas dahulu.
Kepala, kaki dan ekor penyu tak dapat ditarik masuk ke tempurungnya. Kaki-kaki
penyu yang berbentuk dayung, dan lubang hidungnya yang berada di sisi atas
moncongnya, merupakan bentuk adaptasi yang sempurna untuk kehidupan laut.
Penyu tersebar luas di samudera-samudera
di seluruh dunia. Dari tujuh spesies anggota suku ini, enam di antaranya
ditemukan di Indonesia. Beberapa contohnya adalah:
·
Penyu hijau (Chelonia mydas)
·
Penyu sisik (Eretmochelys imbricata)
Dermochelyidae, penyu belimbing]
Suku penyu ini hanya memiliki satu
anggota saja, yakni penyu belimbing (Dermochelys
coriacea). Hidup di lautan-lautan besar hingga ke daerah dingin, penyu ini
merupakan kura-kura terbesar yang masih hidup. Panjang tubuhnya (panjang
karapas) dapat mencapai 3 m, meski umumnya hanya sekitar 1.5 m atau kurang, dan
beratnya mendekati 1 ton.
Chelydridae
Suku ini terdiri dari kura-kura air
tawar berekor panjang dan berkepala besar, yang menyebar di Amerika. Dengan perkecualian satu marga
anggotanya (Platysternon) yang menyebar di Tiongkok dan Indochina. Beberapa ahli memasukkan Platysternon ke
dalam suku tersendiri, Platysternidae. Tidak ada di Indonesia.
Kinosternidae
Yakni suku kura-kura air tawar kecil
dari Amerika bagian tengah. Hewan yang mampu mengeluarkan bau tak enak ini
tidak terdapat di Indonesia.Catatan penting, jenis ini memiliki kelamin yang
persis sama dengan milik pria dewasa. Ketika ereksi, sang betina sanggup berjam
jam menjilati kelamin kekasihnya. Uniknya, selama hidupnya sang betina boleh
berganti pasangan namun hanya mau oral dengan satu kura kura saja.
Dermatemyidae
Juga menyebar terbatas di Amerika Tengah. Dermatemys berukuran
relatif besar dan hidup di sungai-sungai.
Carettochelyidae, labi-labi moncong bab
Suku ini hanya memiliki satu anggota
yang hidup, yakni labi-labi moncong
babi (Carettochelys insculpta). Lainnya telah punah dan
hanya ditemukan dalam bentuk fosil. Labi-labi ini menyebar terbatas di Papua
bagian selatan dan di Australia bagian utara.
Trionychidae, labi-labi
Menyebar luas di Amerika utara,
(Eropa ?), Afrika dan Asia, ini adalah suku labi-labi yang paling banyak
jenisnya. Di Australia, suku ini hanya tinggal berupa fosil. Beberapa contohnya
dari Indonesia adalah:
·
Bulus (Amyda cartilaginea)
·
Manlai alias
labi-labi bintang (Chitra chitra)
·
Labi-labi hutan (Dogania
subplana)
·
Labi-labi irian (Pelochelys
bibroni)
·
Antipa,
labi-labi raksasa (Pelochelys cantori)
Emydidae
Ini adalah suku kura-kura akuatik dan
semi akuatik yang hidup di air tawar di Eropa, Asia dan
terutama di Amerika. Emydidae merupakan salah satu suku kura-kura terbesar dari
segi jumlah anggotanya. Tidak ada spesiesnya di Indonesia kecuali dalam bentuk
hewan introduksi sebagai hewan peliharaan.
Salah satu contohnya yang banyak dipelihara di Indonesia adalah kura-kura telinga merah (Trachemys
scripta).
Geoemydidae
Merupakan suku kura-kura yang terbanyak
anggotanya, Geoemydidae (dahulu disebut Bataguridae) terutama menyebar di Asia Tenggara. Di luar itu, anggota suku ini
juga ditemukan di Afrika bagian utara, Erasia dan Amerika tropis. Ini adalah
suku kura-kura air tawar yang terutama hidup di sungai-sungai, meskipun sering
pula ditemui di daratan. Di Indonesia terdapat sekitar 11 jenisnya. Di
antaranya:
·
Biuku (Batagur baska)
·
Beluku atau tuntong (Callagur
borneoensis)
·
Kuya batok (Cuora amboinensis)
Testudinidae
Adalah suku kura-kura darat dengan
banyak anggota yang tersebar luas di seluruh dunia. Kura-kura raksasa dari
Kepulauan Galapagos dan kura-kura darat berumur panjang dari Kep. Seychelles di
atas termasuk ke dalam suku ini. Dua anggotanya terdapat di Indonesia:
·
Baning sulawesi (Indotestudo
forsteni)
·
Baning cokelat (Manouria
emys)
Telah punah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar